RastraNews.id, Makassar — Di tengah kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN setiap Jumat, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), justru memanfaatkan momentum tersebut untuk mempercepat pembenahan krisis sampah di Kota Makassar.

Alih-alih melonggarkan ritme kerja, ia tetap memimpin rapat koordinasi strategis bersama Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH-SUMA),
Azri Rasul guna merumuskan langkah konkret keluar dari kondisi darurat sampah, di Balai Kota, Jumat (10/4/2026).

“Persoalan sampah ini harus kita tangani serius dan terukur. Ini tidak bisa parsial, harus lintas sektor,” tegasnya.

Appi menyoroti kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih menggunakan sistem open dumping, yang berdampak pada pencemaran lingkungan, termasuk meluasnya limbah lindi hingga ke kawasan permukiman.

Karena itu, Pemkot Makassar menargetkan transformasi menuju sistem sanitary landfill yang lebih ramah lingkungan dan terstandar.

“Kalau TPA tidak dibenahi, semua capaian akan turun. Ini persoalan utama kita,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup (DLH), tetapi seluruh perangkat daerah, mulai dari kecamatan, pasar, hingga fasilitas publik.

“Saya butuh komitmen semua pihak. Ini bukan soal anggaran saja, tapi keseriusan bersama,” tegasnya.

Appi mengungkapkan, saat ini kapasitas pengangkutan sampah baru mencapai sekitar 67 persen dari total produksi harian yang mencapai 800 ton.

Artinya, masih ada sekitar 30 persen sampah yang belum tertangani optimal.
Selain itu, tingginya biaya pengelolaan sampah juga menjadi perhatian, karena belum sebanding dengan hasil yang dicapai.

Meski demikian, ia mengapresiasi berbagai inisiatif yang telah berjalan, seperti pengolahan eco enzyme dan pemanfaatan maggot sebagai solusi alternatif pengurangan sampah.

Sementara itu, Azri Rasul menjelaskan, Makassar sebagai kota metropolitan dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa memiliki tantangan besar dalam pengelolaan sampah.

Ia menyebut, total timbulan sampah bisa mencapai lebih dari 1.000 ton per hari, termasuk kontribusi dari wilayah penyangga seperti Gowa dan Maros.

Menurutnya, kunci utama pengelolaan sampah adalah pemilahan sejak dari sumber, yakni memisahkan sampah organik dan anorganik.

“Kalau pemilahan berjalan, maka hanya residu yang masuk ke TPA,” jelasnya.

Ia juga menegaskan pentingnya pembagian peran yang jelas. Pengelolaan sampah di pasar menjadi tanggung jawab kepala pasar, di rumah sakit oleh manajemen rumah sakit, sementara DLH berperan dalam pendampingan teknis.

“Kalau semua sektor menjalankan tugasnya, persoalan sampah bisa diselesaikan lebih cepat,” ujarnya.

Appi berharap, dengan sinergi lintas sektor dan perubahan pola pikir, Makassar dapat keluar dari zona darurat sampah menuju sistem pengelolaan yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan. (mu)