‎RASTRANEWS.ID, MAKASSAR — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi mengancam melakukan perombakan besar-besaran di jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar. Sikap tegas itu muncul setelah Munafri menemukan sejumlah instruksi terkait penataan TPA Antang tidak dijalankan secara maksimal.

‎Appi mengaku geram lantaran persoalan yang sebelumnya telah diinstruksikan untuk segera ditangani masih ditemukan saat dirinya melakukan peninjauan langsung ke TPA Antang, Rabu (2/9/2026).

“Padahal sudah diberi tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak dijalankan. Saya pastikan akan ada perubahan besar-besaran di unsur Dinas Lingkungan Hidup,” tegas Appi.

‎Dalam peninjauan tersebut, Appi menyoroti dua persoalan utama, yakni perbaikan sistem pengelolaan air lindi serta penertiban sapi yang masih berkeliaran di area TPA.

‎Ia menegaskan sapi tidak boleh lagi masuk ke area TPA untuk memakan sampah plastik maupun meminum air lindi karena berpotensi membahayakan kesehatan dan lingkungan.

‎”Sapi tidak boleh lagi naik ke TPA untuk makan plastik, minum air lindi, dan sejenisnya. Namun, saat saya datang meninjau, kondisinya tidak seperti yang saya bayangkan. Saya menganggap ada mismanajemen dalam pengelolaannya,” tandasnya.

Menurut Appi, pembenahan TPA menjadi semakin mendesak setelah tim Penegakan Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup melakukan peninjauan dan memberikan sejumlah catatan yang harus segera dipenuhi Pemkot Makassar untuk keluar dari sanksi administrasi.

‎”Di TPA, hal ini sangat penting untuk memastikan kita keluar dari sanksi administrasi. Setelah Gakkum datang berkunjung, ada beberapa hal yang harus kita perbaiki,” ujarnya.

‎Salah satu perhatian utama adalah sistem drainase dan kolam penampungan air lindi. Munafri meminta aliran lindi yang terhubung dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dipastikan tidak mencemari lingkungan maupun masuk ke permukiman warga.

‎Pemkot Makassar, kata dia, telah menyiapkan pembangunan drainase di area luar TPA sepanjang sekitar 700 hingga 800 meter. Pada sejumlah titik, akan dibangun kolam lindi yang saling terhubung untuk mengantisipasi luapan saat hujan.

‎”Harus ada minimal tiga kolam lindi yang saling terhubung. Ini yang saya inginkan dan sudah ada dalam perencanaannya, agar perencanaan penganggaran untuk tahun depan sudah siap,” jelasnya.

Appi menilai kapasitas kolam lindi yang ada saat ini sudah tidak sebanding dengan luas TPA Antang. Kolam tersebut dibangun sekitar 1993 ketika luas TPA masih sekitar empat hektare, sementara saat ini luas TPA telah mencapai lebih dari 12 hektare.

‎”Artinya, tidak mungkin kolam lindi dengan kapasitas empat hektare mampu menampung beban dari area seluas 12 hektare,” katanya.

‎Ia mengingatkan persoalan ini harus segera diantisipasi sebelum musim hujan karena luapan air lindi berpotensi kembali masuk ke wilayah permukiman warga.

‎Selain persoalan lindi, Munafri juga meminta pengelolaan sapi di sekitar TPA ditata. Pemkot telah membangun penangkaran khusus agar sapi tidak lagi berkeliaran di area pembuangan sampah.

‎Sapi tersebut nantinya diarahkan untuk mengonsumsi sampah organik yang berasal dari pasar sebagai bagian dari integrasi pengelolaan sampah dan peternakan.

‎”Terkait sapi-sapi yang ada di sana, kita sudah membuat penangkaran. Kita berharap sampah-sampah organik dari pasar dikirim ke sana untuk dimasukkan ke dalam area peternakan. Seluruh sapi dimasukkan ke dalam sana dan diberi makan sampah murni organik yang berasal dari pasar,” tuturnya.

‎Terpisah, Kepala Dinas PU Kota Makassar Zuhaelsi Zubir mengatakan pihaknya telah menyelesaikan pembangunan penangkaran sapi di kawasan TPA Antang.

‎”Kita sudah melakukan tugas untuk membangun penangkaran sapi di sana,” singkatnya.

‎Dalam kunjungan tersebut, Munafri juga terlihat melakukan video call dengan Kepala DLH Makassar Helmy Budiman yang sedang menjalankan tugas di Jepang.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah sapi masih terlihat berkeliaran di area TPA Antang. Sebagian lainnya telah dimasukkan ke dalam penangkaran khusus yang disiapkan Pemkot Makassar. (*)