RastraNews.id, Makassar — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), menginstruksikan Dinas Pertanian dan Perikanan (DP2) untuk mengakselerasi program urban farming di seluruh wilayah sebagai langkah konkret menekan volume sampah sekaligus memperkuat kemandirian pangan warga.

Menurut Appi, program ini harus dijalankan secara masif hingga tingkat lorong dengan melibatkan masyarakat, komunitas, hingga organisasi kemahasiswaan.

“Kita perlu maksimalkan urban farming di semua wilayah, dengan keterlibatan aktif masyarakat hingga ke tingkat lorong,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).

Ia menjelaskan, konsep urban farming yang dikembangkan tidak hanya fokus pada pemanfaatan lahan sempit, tetapi juga terintegrasi dengan pengelolaan sampah rumah tangga.

Sampah organik, kata dia, dapat diolah menjadi kompos yang kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan.

“Ini solusi ganda, mengurangi sampah sekaligus memperkuat ketahanan pangan,” tegasnya.

Appu menilai, program ini telah menunjukkan hasil positif di sejumlah wilayah, bahkan mampu membangun ekosistem pemenuhan gizi dan ekonomi lokal berbasis masyarakat.

Ia mendorong setiap kelompok masyarakat untuk membina minimal dua lorong, bekerja sama dengan lurah dan RT/RW guna menciptakan lingkungan yang produktif dan tertata.

Selain itu, ia juga mencontohkan pengembangan peternakan skala kecil yang ramah lingkungan dan tetap produktif meski di lahan terbatas.

“Sekarang beternak tidak harus lahan luas. Dengan sistem yang baik, bisa menghasilkan tanpa menimbulkan bau,” jelasnya.

Untuk mendukung program ini, Munafri meminta DP2 berkoordinasi dengan Dewan Lingkungan serta menjalin kemitraan dengan sektor swasta melalui program CSR.

Ia juga menargetkan peningkatan pengelolaan sampah hingga minimal 95 persen, mengingat saat ini capaian masih di bawah 70 persen.

“Biaya yang kita keluarkan harus sebanding dengan hasil. Target kita 95 persen sampah terkelola,” tegasnya.

Munafri turut menginstruksikan camat dan lurah agar lebih aktif turun ke lapangan, memantau kondisi wilayah, serta memperkuat kegiatan berbasis masyarakat.

“Sering turun ke wilayah, bangun kegiatan bersama. Dari situ perubahan nyata bisa terjadi,” pungkasnya. (mu)