RastraNews.id, Sigi – Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menegaskan Program Berani Panen Raya menjadi salah satu prioritas utama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Komitmen tersebut disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Perluasan Penerapan Budidaya Padi Pertanian Modern (PMAAS) dan Program Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2026 di Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBPMP), Desa Maku, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi.

Menurut Anwar, Sulawesi Tengah memiliki peran strategis dalam mendukung program ketahanan pangan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Karena itu, sektor pertanian ditempatkan sebagai salah satu fokus utama pembangunan daerah melalui Program Berani Panen Raya.

“Kalau pemerintah pusat menargetkan produktivitas hingga 10 ton per hektare, maka semangat Berani Panen Raya adalah mendorong petani Sulawesi Tengah terus meningkatkan hasil panennya. Yang terpenting produktivitas naik dan kesejahteraan petani ikut meningkat,” kata Anwar.

Target Produktivitas Naik Jadi 6 Ton per Hektare

Anwar mengungkapkan, produktivitas rata-rata padi di Sulawesi Tengah saat ini masih berada pada kisaran 4 ton per hektare. Melalui Program Berani Panen Raya, pemerintah daerah menargetkan peningkatan produksi hingga rata-rata 6 ton per hektare pada 2027.

Target tersebut dinilai realistis jika seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, hingga petani, bekerja secara terpadu dan berkelanjutan.

“Kalau rata-rata Sulawesi Tengah bisa mencapai 6 ton per hektare, kita sudah memberikan kontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Peningkatan produktivitas tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pasokan pangan daerah, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Cetak Sawah Baru Jadi Fokus

Selain meningkatkan hasil panen pada lahan yang sudah ada, Program Berani Panen Raya juga diarahkan untuk mendukung pengembangan kawasan pertanian baru melalui program cetak sawah.

Menurut Anwar, langkah tersebut penting untuk mengantisipasi semakin tingginya alih fungsi lahan pertanian yang berpotensi mengancam ketersediaan pangan di masa depan.

“Cetak sawah baru harus terus didorong karena kebutuhan pangan terus meningkat, sementara lahan pertanian semakin banyak yang beralih fungsi,” katanya.

Ia menegaskan, pengembangan lahan baru harus dilakukan secara terukur dan didukung oleh infrastruktur pertanian yang memadai agar mampu memberikan hasil optimal bagi petani.

Dorong Modernisasi dan Digitalisasi Pertanian

Gubernur juga menekankan pentingnya transformasi sektor pertanian melalui penerapan teknologi modern, mekanisasi, dan digitalisasi.

Menurutnya, pertanian tidak lagi bisa dikelola dengan cara-cara konvensional apabila ingin meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Pemanfaatan teknologi pertanian modern, alat dan mesin pertanian, hingga sistem data digital dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi produksi dan memperkuat posisi Sulawesi Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

“Pertanian Sulawesi Tengah harus bergerak menuju pertanian modern agar mampu bersaing dengan daerah lain bahkan dengan negara lain,” tegasnya.

Kesejahteraan Petani Jadi Tujuan Utama

Meski menargetkan peningkatan produksi, Anwar menegaskan bahwa keberhasilan Program Berani Panen Raya tidak hanya diukur dari jumlah tonase hasil panen.

Menurutnya, indikator utama yang ingin dicapai adalah meningkatnya kesejahteraan petani sebagai pelaku utama pembangunan sektor pertanian.

“Tujuan akhir dari Berani Panen Raya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi menghadirkan kesejahteraan bagi petani Sulawesi Tengah,” tegas Anwar.

Dengan target produktivitas mencapai 6 ton per hektare pada 2027, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah optimistis sektor pertanian akan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat kontribusi Sulteng terhadap ketahanan pangan nasional.