Rastranews.id, Palu – Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid kembali mencuri perhatian publik lewat langkah tak lazim dalam pembinaan birokrasi. Alih-alih menggelar pembekalan di hotel atau pusat pelatihan, Anwar memilih Masjid Raya Baitul Khairaat, Palu, sebagai lokasi retret para kepala dinas Pemprov Sulawesi Tengah.
Selama tiga hari, 30 Januari hingga 1 Februari 2026, seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dikumpulkan di rumah ibadah tersebut untuk mengikuti agenda pembinaan yang menitikberatkan pada penguatan moral, spiritual, dan kesadaran kepemimpinan.
Langkah ini menjadikan Anwar Hafid sebagai gubernur pertama di Indonesia yang menyelenggarakan retret pejabat struktural di masjid, dengan pendampingan langsung dari Jamaah Tabligh.
“Mulai hari ini kami melakukan retret bagi seluruh kepala dinas, dan tempatnya memang di masjid,” ujar Anwar Hafid, Jumat (30/1/2026).
Anwar menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar simbolik atau seremonial keagamaan. Retret tersebut dirancang sebagai upaya membangun kembali fondasi etika birokrasi di Sulawesi Tengah, di tengah tuntutan publik terhadap pemerintahan yang bersih dan berpihak pada rakyat.
“Saya ingin mereka memulai tugas dengan hati yang bersih dan niat yang lurus. Jabatan itu amanah, bukan alat kekuasaan,” tegasnya.
Menurut Anwar, kecakapan teknis saja tidak cukup untuk mengelola pemerintahan yang kompleks. Tanpa integritas dan kesadaran moral, kebijakan publik berisiko menjauh dari kepentingan masyarakat.
Selama retret, para kepala dinas mengikuti rangkaian ibadah berjamaah, kajian keislaman, tausiyah, hingga diskusi reflektif tentang makna kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai pelayan publik.
Pendekatan ini dinilai sebagai terobosan kepemimpinan yang memadukan nilai religius, kearifan lokal, dan prinsip tata kelola modern dalam satu kerangka pembinaan birokrasi.
“Kalau pemimpinnya takut kepada Tuhan, kebijakan yang diambil pasti lebih berpihak pada rakyat,” kata Anwar.
Pemilihan Masjid Raya Baitul Khairaat juga disebut sebagai bentuk efisiensi anggaran sekaligus pemanfaatan ruang publik yang lebih bermakna.
“Selain efisien, masjid itu tempat yang membawa keberkahan. Jadi bukan hanya kegiatannya, tapi suasananya juga mendidik,” ujarnya.
Sejumlah kepala dinas mengaku mendapatkan pengalaman berbeda dari retret tersebut. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulawesi Tengah, Muchsin Husain Pakaya, menyebut suasana masjid membuat seluruh peserta melebur tanpa sekat jabatan.
“Di sini tidak ada kepala dinas atau bawahan. Semua sama. Itu yang membuat kami lebih reflektif,” ucapnya.
Melalui retret ini, Anwar Hafid kembali menegaskan gaya kepemimpinannya yang tidak hanya fokus pada capaian administratif, tetapi juga pembangunan karakter birokrasi.
Langkah tersebut sekaligus menegaskan posisinya sebagai pemimpin daerah yang berani keluar dari pola konvensional demi menghadirkan pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan publik.

