Rastranews.id, Gowa — Bupati Gowa, Siti Husniah Talenrang, menyoroti betapa sulitnya masyarakat membedakan uang palsu (upal) dengan uang asli setelah menyaksikan langsung pemusnahan barang bukti kasus sindikat uang palsu UIN Alauddin yang digelar Kejari Gowa.
Menurutnya, kemiripan fisik uang palsu tersebut sangat mengkhawatirkan karena secara kasat mata hampir tidak memiliki perbedaan dengan rupiah asli.
“Tentunya kita harus membawa yang asli dengan palsu. Tadi secara kasat mata kita lihat sendiri, uang palsu tidak ada bedanya sama sekali seperti uang asli,” ujarnya saat hadir dalam pemusnahan barang bukti oleh Kejari Gowa, Selasa (2/12/2025).
Ia meminta Bank Indonesia (BI) meningkatkan edukasi publik terhadap mata uang rupiah, mengingat tidak semua masyarakat akrab dengan sistem pembayaran digital seperti QRIS.
“Ini harus saya sampaikan kepada Deputi Bank Indonesia untuk melakukan edukasi kepada masyarakat lebih lanjut, karena tidak semua masyarakat memahami yang namanya digitalisasi menggunakan QRIS,” ungkapnya.
”Tetap harus kita sosialisasikan, sebab bagaimanapun juga masyarakat itu sering menggunakan fisik uangnya sendiri,” lanjut Husniah menegaskan.
Bupati juga mengapresiasi langkah Kejaksaan dalam memusnahkan uang palsu beserta peralatan produksinya yang sebelumnya dipaparkan oleh Kejari Gowa.
“Ini adalah bentuk prestasi kinerja yang sangat luar biasa dari rekan-rekan kita Kejaksaan dan Polri,” katanya.
Ia berharap Kejaksaan dan Kepolisian tetap meningkatkan pengawasan mengingat Kabupaten Gowa menjadi wilayah penyangga Kota Makassar sehingga potensi peredaran uang palsu tetap terbuka.
“Ke depannya saya tetap mengajak kepada rekan-rekan Kejaksaan dan Kepolisian untuk terus melakukan pengawasan, karena Kabupaten Gowa adalah wilayah penyangga Makassar yang tidak menutup kemungkinan peredaran uang ini ke depannya masih akan terjadi,” jelasnya.
Perihal dampak uang palsu terhadap inflasi, Husniah membenarkan bahwa keberadaan upal dapat memicu tekanan ekonomi di masyarakat.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Gowa terus mendorong penggunaan transaksi digital hingga ke tingkat desa bekerja sama dengan perbankan.
“Beberapa bank yang ada di sini selalu menyampaikan bahwa mohon untuk mengedukasikan kepada masyarakat kami, penggunaan QRIS sehingga uang palsu bisa kita hindari beredar di Kabupaten Gowa,” tutupnya. (MU)

