“Bidang ilmu terus berkembang. Kita membutuhkan mitra strategis dalam bidang keilmuan agar riset dapat memberikan dampak. Kita ingin menghasilkan sesuatu yang memberikan dampak lebih luas. Karena itu, kolaborasi keilmuan tidak sebatas riset, tetapi juga perlu diarahkan pada hilirisasi,” katanya.
Dalam pengembangan risetnya, Prof. Sastia fokus pada sejumlah bidang, antara lain metabolomics, functional foods, agricultural products, dan tropical bioproducts.
Melalui Global Food and Agricultural Technology Laboratory, penelitian diarahkan untuk meningkatkan kualitas produk pangan dan pertanian, baik dari aspek kandungan nutrisi, karakteristik sensoris, maupun manfaat fungsional.
Sejumlah bidang yang dikembangkan mencakup Bioresource Exploration and Upcycling, Food Processing and Technology, Food for Health and Wellbeing, serta Food Fermentation Technology.
Prof. Sastia menekankan bahwa pangan yang sehat tetap harus memiliki cita rasa dan karakteristik yang disukai konsumen. Hal ini menjadi tantangan tersendiri di tengah tingginya konsumsi makanan ultra-proses.

“Inovasi pangan perlu mempertemukan manfaat kesehatan dengan karakteristik sensoris yang disukai konsumen. Yang penting adalah bagaimana kita memodulasi food flavor, tetap menarik tetapi sehat,” jelasnya.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan pangan fungsional karena didukung kekayaan biodiversitas tropis.
Berbagai bahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah.
Salah satu contohnya adalah pemanfaatan kulit pisang sebagai sumber serat. Prof. Sastia mengembangkan bahan tersebut untuk diaplikasikan dalam produk pangan, salah satunya pancake, sebagai alternatif penggunaan tepung terigu.
Pemanfaatan bahan tersebut tidak hanya menawarkan alternatif bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan konsumsi serat sekaligus mengoptimalkan bahan yang selama ini kerap menjadi limbah.


