Rastranews.id, Makassar – Di sebuah sudut tenang di Jalan Meranti, Panakkukang, berdiri bangunan empat lantai yang setiap pagi ramai oleh suara anak-anak mengaji dan tawa belajar. Itulah Ranu Harapan Islamic School (RHIS), sebuah lembaga pendidikan Islam yang sedang menorehkan namanya dalam peta sekolah unggulan di Makassar.

Tahun ajaran baru 2026–2027 sebentar lagi datang. Di sekolah ini, persiapan pendaftaran siswa baru sudah dimulai sejak awal Oktober. Tak butuh waktu lama, brosur dan pengumuman pendaftaran tersebar luas di media sosial, dan gelombang calon orang tua pun mulai berdatangan.

“Tahun lalu SD penuh bahkan melebihi kuota. SMP juga sampai buka daftar tunggu. SMA kami sengaja batasi, satu kelas kecil dengan 20 siswa. Kami tidak mengejar jumlah, tapi kualitas,” ujar Farman Ramadhan, Direktur RHIS, dengan nada bangga.

Ranu Harapan Islamic School berdiri bukan semata karena kebutuhan akademik, melainkan karena keresahan. Keresahan akan sistem pendidikan yang sering kali menomorduakan karakter dan nilai spiritual. Dari sanalah visi RHIS lahir, membangun sekolah yang mampu menyatukan ilmu, iman, dan akhlak.

Farman menjelaskan, pendekatan RHIS menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat pendidikan, tanpa meninggalkan kebutuhan zaman.

“Kami ingin anak-anak hafal Qur’an, tapi juga bisa berpikir logis, kritis, dan berbahasa global,” ujarnya.

RHIS kini memiliki sekitar 280 siswa dari SD, SMP, dan SMA. Mereka belajar dalam suasana yang seimbang antara ketegasan disiplin dan kehangatan pendampingan.

Lantai dua ditempati oleh siswa SD, lantai tiga untuk SMP, dan lantai empat untuk SMA, semua tertata rapi dengan ruang-ruang yang didesain agar nyaman, terang, dan bernuansa islami.

Empat Pilar Pembentuk Generasi RHIS

Filosofi pendidikan di RHIS terangkum dalam empat pilar utama:

• Tahfizul Qur’an — Program yang menjadi ruh sekolah. Siswa dibimbing untuk menghafal Al-Qur’an dengan metode yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Ada yang menuntaskan 30 juz dalam setahun.

• Bahasa Arab dan Inggris — Bahasa dipandang sebagai jembatan dunia. RHIS menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan luar negeri, termasuk mitra di Rotterdam, agar siswa dapat berinteraksi langsung dengan penutur asing.

• Numerasi dan Matematika Modern — Pendekatan numerasi yang tidak hanya menghitung, tapi melatih logika, analisis, dan pemecahan masalah.

• Pembinaan Karakter Islami — Program yang menanamkan nilai-nilai akhlak, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab sosial sejak dini.

“Ada siswa SD datang dengan hafalan tujuh juz, dan setahun kemudian selesai 30 juz. Ini bukti bahwa sistem kami efektif dan terukur,” kata Farman.

Bagi banyak orang tua, RHIS bukan hanya tempat anak belajar, tapi ruang tumbuh yang membentuk jati diri. Setiap pagi, para guru menyambut murid di gerbang dengan senyum, memberi salam satu per satu. Di sela jam pelajaran, lantunan ayat-ayat suci menggema dari mushala kecil di tengah gedung.

Sekolah ini juga menaruh perhatian besar pada pengembangan potensi non-akademik. Siswa RHIS rutin mengikuti kejuaraan renang, bela diri (taekwondo dan gojukai), hingga panahan. Bahkan, salah satu siswa mereka baru-baru ini menjuarai lomba panahan di Universitas Hasanuddin.

Sekolah ingin anak-anak berprestasi, tapi tetap rendah hati. Di sini, mereka belajar bahwa kemenangan sejati adalah melawan diri sendiri.

Akses Terbuka, Kuota Terbatas

Pendaftaran peserta didik baru di RHIS telah dibuka sejak 1 Oktober 2025. Tak ada batas waktu pasti, namun kuota terbatas membuat pendaftaran biasanya ditutup lebih awal. Tahun lalu, kuota SD dan SMP habis dalam waktu tiga bulan.

Sebagai bentuk apresiasi, RHIS memberikan subsidi 50% uang pangkal dan SPP bagi 15 pendaftar pertama di setiap jenjang. Biaya masuk ditetapkan Rp25 juta, dan SPP Rp2 juta per bulan, seragam di seluruh jenjang pendidikan.

“Kami ingin memberi kesempatan bagi siapa pun yang serius ingin belajar di lingkungan yang berorientasi Qur’ani dan global,” ujar Farman.

Mendidik untuk Dunia dan Akhirat

Ranu Harapan Islamic School tumbuh dengan filosofi sederhana namun kuat: mendidik bukan hanya untuk dunia, tapi juga untuk akhirat. Di tengah derasnya arus digital dan globalisasi, sekolah ini mencoba menjaga keseimbangan — antara ilmu pengetahuan modern dan nilai-nilai keislaman yang menenangkan.

Setiap lulusan RHIS diharapkan bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga berakhlak, berdaya saing, dan berjiwa Qur’ani.

“Kami tidak mencetak penghafal saja. Kami mencetak manusia yang berilmu, beriman, dan bermanfaat bagi dunia,” tutup Firman.

Ranu Harapan Islamic School, dengan seluruh kesederhanaan dan semangatnya, seolah menjadi oase di tengah hiruk-pikuk pendidikan modern. Di sana, ayat-ayat suci bukan sekadar hafalan, tapi panduan hidup yang mengantarkan generasi masa depan menuju cahaya. (AR)