Rastranews.id, Makassar — Kado Hari Guru tahun ini terasa berbeda bagi para pendidik di wilayah kepulauan Makassar.

Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham (Munafri–Aliyah) belum lama ini telah resmi menyampaikan kenaikan tunjangan khusus bagi guru dan tenaga kesehatan yang mengabdi di pulau-pulau terluar kota.

Kebijakan ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga penegasan bahwa pemerintah hadir untuk para “pahlawan tanpa tanda jasa” yang bekerja di garis terluar. Inilah hadiah paling nyata di Hari Guru 2025.

Melalui kebijakan baru ini, Pemkot Makassar membagi wilayah kepulauan menjadi tiga zona, dari pulau terdekat hingga terluar. Besaran tunjangan disesuaikan dengan tingkat kesulitan wilayah tugas.

Dari Pulau Lae-Lae hingga Langkai dan Lanjukang, perhatian pemerintah kini benar-benar menyentuh batas terjauh Kota Makassar.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa tunjangan khusus ini merupakan bentuk penghargaan untuk mereka yang tetap bertugas meski menghadapi keterbatasan akses, cuaca ekstrem, dan tantangan geografis.

“Ini adalah kepedulian pemerintah kota. Kewajiban yang harus kami lakukan adalah memberikan tunjangan khusus kepada tenaga pendidikan dan tenaga kesehatan di pulau-pulau Kota Makassar,” ujar Munafri saat launching tunjangan di Pulau Kodingareng, Senin (6/10/2025), lalu.

Pembagian Zona & Besaran Tunjangan

Zona III – Terluar (Langkai, Lanjukang, Lumu-Lumu, Bone Tambu)

  • Dokter: ± Rp5 juta/bulan
  • Perawat & Bidan: Rp2,5 juta
  • Guru: Rp2,5 juta

Zona II – Pulau Tengah (Kodingareng, Barrang Lompo, Barrang Caddi, Bone Tambu)

  • Dokter: Rp3,5 juta
  • Perawat & Bidan: Rp2 juta
  • Guru: Rp1,5 juta

Zona I – Terdekat (Lae-Lae)

  • Tenaga kesehatan: ± Rp2 juta
  • Guru: ± Rp700 ribu

Munafri menjelaskan bahwa klasifikasi ini dibuat agar penghargaan terhadap tenaga pendidik dan kesehatan sebanding dengan “effort” dan risiko yang mereka hadapi setiap hari.

“Mereka harus menyeberangi laut, menghadapi ombak, cuaca yang tak menentu. Ini perhatian pemerintah agar mereka tetap bersemangat,” kata Appi.

Kepala Dinas Kesehatan Makassar, dr. Nursaidah Sirajuddin, menyebut saat ini terdapat 68 tenaga kesehatan di dua Puskesmas kepulauan: Barrang Lompo dan Kodingareng.

Tenaga kesehatan mendapat tunjangan lebih besar karena mereka bekerja 24 jam, harus siap melakukan rujukan malam hari, dan sering menghadapi kondisi darurat.

Kepala Dinas Pendidikan Makassar, Achi Soleman, menyebut total penerima tunjangan guru dan tenaga kependidikan mencapai 431 orang. Mereka mengajar di tiga zona geografis dengan berbagai tingkat kesulitan akses.

Achi menegaskan, tunjangan ini bukan soal angka semata, tetapi penghargaan terhadap dedikasi guru-guru yang setiap hari menyeberangi laut demi pendidikan anak-anak pulau.

“Ini bentuk apresiasi sekaligus motivasi agar para guru tetap bersemangat. Ini bukan sekadar tunjangan, ini penghargaan atas pengabdian,” ujar Achi.

Kebijakan tunjangan ini menjadi hadiah istimewa Hari Guru bagi para pendidik di pulau. Mereka yang bekerja jauh dari daratan, namun tetap menyalakan cahaya pendidikan.

Di tengah gelombang dan badai, mereka tetap hadir membangun masa depan anak-anak pulau. (MU)