Rastranews.id, Makassar – Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan II (Mandiri) di Kota Makassar resmi berakhir pada Rabu malam (17/12/2025).

Kegiatan yang berlangsung selama enam hari tersebut diikuti 100 peserta dan melalui rangkaian seleksi serta pembelajaran yang ketat.

Sertifikasi kali ini dilaksanakan di Wisma Shafa Asrama Haji Embarkasi Makassar, Sudiang, Kecamatan Biringkanaya.

Kegiatan sertifikasi inipun resmi ditutup oleh Rektor UINAM, Prof. Hamdan Juhannis.

Diketahui program ini merupakan agenda resmi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia, yang bekerjasama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar sebagai penyelenggara teknis.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof. Abdul Rasyid Masri, menyampaikan bahwa seluruh tahapan sertifikasi berjalan sesuai dengan skema yang telah disiapkan.

“Pesertanya seratus orang, dan secara umum prosesnya berjalan sesuai rencana. Memang ada dinamika, terutama dalam upaya memperbaiki kedisiplinan peserta,” ujarnya.

Menurut Prof. Rasyid, sertifikasi ini diarahkan untuk melahirkan alumni yang memiliki profesionalisme sebagai pembimbing ibadah haji dan umrah.

Profesionalisme tersebut, kata dia, mencakup dua aspek mendasar, yakni penguasaan kompetensi dan keterampilan teknis dalam membimbing jamaah.

“Ini menjadi modal dasar mereka ketika nantinya melakukan pembimbingan, jika mereka diterima. Namun sertifikasi ini bukan jaminan semua akan direkrut, karena tetap ada kompetisi. Sertifikasi adalah prasyarat untuk bisa menjadi pembimbing haji ke depan,” jelasnya.

Ia menambahkan, tingginya animo peserta tidak hanya datang dari unsur kementerian atau perguruan tinggi, tetapi juga dari pengelola travel haji dan umrah, termasuk para pemilik dan pembimbing yang sebelumnya belum memiliki sertifikat.

“Kerja sama dengan Kemenhaj Sulsel berjalan sangat baik. Dalam dua pekan terakhir ini kami sudah melaksanakan angkatan kedua, dan target 100 peserta tercapai. Ini bahkan menjadi yang tertinggi,” katanya.

Peserta sertifikasi berasal dari berbagai daerah di Sulawesi, seperti Palu, Gorontalo, Kendari, dan Manado, serta dari wilayah timur Indonesia seperti Ambon, Ternate, hingga beberapa provinsi di Papua. Bahkan, tercatat pula peserta dari Kalimantan dan Pulau Jawa.

“Ini sudah lintas provinsi karena memang menjadi kewajiban ke depan. Untuk menjadi pembimbing haji, harus dipastikan mereka memiliki pengetahuan yang memadai dan keterampilan dalam mengelola jamaah,” pungkas Prof. Rasyid.(JY)